Resume 3 Psikologi Pendidikan : Bimbingan Konseling


“BIMBINGAN KONSELING”

A.    Pendidikan bermutu :
Transformasi iptek.
Profesionalisme & sistem manajemen
Tenaga kependidikan.
Pengembangan kemampuan peserta didik (aspek akademis, pribadi, sosial)

B.     Bimbingan dan Konseling Sekolah terkait dengan program pemberian layanan bantuan kepada siswa dalam upaya mencapai perkembangan yang optimal, melalui interaksi yang sehat dengan lingkungan.Berikut akan saya jelaskan secara sistematis satu per satu.

C.     Bimbingan merupakan suatu upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dalam mencapai perkembangan optimal yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar.

D. Konseling merupakan layanan utama bimbingan dalam upaya membantu individu agar mampu mengembangkan diri dan mengatasi masalah melalui hubungan tatap muka atau melalui media, baik secara perorangan maupun kelompok.


Ragam bimbingan menurut masalah :
1.      Bimbingan akademik
2.      Bimbingan sosial pribadi
3.      Bimbingan karir

Bimbingan akademik
Diarahkan  untuk membantu individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah akademik :
   - Pengenalan kurikulum.
   - Pemilihan jurusan.
   - Cara belajar.
   - Penyelesaian tugas dan latihan.
   - Pencarian dan penggunaan sumber belajar.
  
Bimbingan sosial pribadi
 Membantu siswa memecahkan masalah sosial pribadi :
   - Hubungan sesama teman.
   - Hubungan dengan guru dan staf .
   - Pemahaman sifat.
   - Penyesuaian dengan lingk pendd & masy.
   - Penyelesaian konflik

 Bimbingan karir
Membantu individu dlm perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah karir :
   - Pemahaman terhadap jabatan, tugas kerja.
   - Pemahaman kondisi dan kemampuan diri.
   - Pemahaman kondisi lingkungan.
   - Perencanaan dan pengembangan karir.
   - Penyesuaian pekerjaan.
   - Pemecahan masalah karir yang dihadapi.

Jenis Layanan Bimbingan:
·         Pelayanan pengumpulan data tentang siswa dan lingkungannya sbg usaha utk mengetahui diri individu seluas-luasnya & latar belakang lingkungannya.
·         Penyajian informasi yang menyajikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yang diperlukan individu. 
      Orientasi/Orientation (Cara belajar, ergaulan., Artikulasi (Articulation – khusus untuk calon siswa), dll.
·         Konseling merupakan layanan terpenting dalam program bimbingan yang memfasilitasi individu memperoleh bantuan pribadi secara langsung.
·         Penempatan (Placement) dan  Tindak lanjut (Follow-up – khusus untuk alumni): pilihan kegiatan ekstrakurikuler, pilihan program studi, pilihan sekolah lanjutan, tindak lanjut., dll.
·         Konsultasi(Consultation)
·    - Dengan petugas administrasi sekolah
·    - Dengan staf pengajar.
·    - Dengan orangtua siswa – secara
·      individual atau dalam bentuk pertemuan
·      dengan para orangtua.
·Penilaian dan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tujuan apa saja yang telah dicapai dari program yang  dilaksanakan.
·

F.      Pendekatan Bimbingan :
·         Pendekatan Krisis, membantu individu yang datang sesuai dengan masalah yang dihadapinya dengan lebih menggunakan pendekatan psikoanalisa.
·         Pendekatan Remedial, membantu memperbaiki kesulitan dan kelemahan individu dengan lebih menggunakan pendekatan behavioristik.
·         Pendekatan Preventif, mengajarkan pengetahuan dan keterampilam untuk mencegah dan mengantisipasi masalah.
·         Pendekatan Perkembangan, menggunakan teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling.
·
Kualitas Pribadi Konselor

 Karakteristik kualitas pribadi konselor:

pemahaman diri (mengetahui masalah yg harus diselesaikan)

kompeten,

kesehatan psikologis,

dapat dipercaya,

jujur,

kekuatan (agar klien merasa aman),

bersikap hangat,

active responsiveness (bersifat dinamis),

sabar,

kepekaan (menyadari  masalah yg tersembunyi pada klien),

kesadaran holistic (memahami klien secara utuh).

Resume 2 Psikologi Pendidikan : Psikologi Sekolah


“PSIKOLOGI SEKOLAH”

Psikologi sekolah dan psikologi pendidikan adalah erat kaitannya antara satu dengan yang lainnya. Berikut akan saya jelaskan satu per satu secara rinci dan jelas.
A.    PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Adalah ilmu yang mempelajari penerapan teori-teori psikologi dalam bidang pendidikan.
Tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan di Indonesia.
Kontribusi psikologi pendidikan :
1.      Pengembangan kurikulum
2.      Pengembangan program pendidikan
3.      Pengembangan sistem pembelajaran
4.      Pengembangan sistem evaluasi

1.      Pengembangan kurikulum merupakan seperangkat program yang direncanakan dan dilaksanakan baik di dalam maupun di luar sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Penyusunan buku ajar didasarkan pada segi-segi psikologus peserta didik.
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yaitu:
·         Karakteristik psikologis peserta didik
·         Kemampuan peserta didik untuk melakukan sesuatu dalam berbagai konteks
·         Pengalaman belajar siswa
·         Hasil belajar (learning outcomes)
·         Standarisasi kemampuan siswa

2.      Pengembangan program pendidikan, misalnya yaitu :
·         Penyusunan, jadwal pelajaran, jadwal ujian, dan sebagainya tetapi tetap dengan mempertimbangkan aspek psikologis peserta didik.
·         Penentuan jurusan atau program
·         Pengembangan program harus mengacu pada upaya pengembangan kemampuan potensial peserta didik

3.      Pengembangan sistem pembelajaran yaitu dengan :
·         Pemilihan teori belajar yang akan diaplikasikan
·         Pemilihan model-model pembelajaran
·         Pemilihan media dan alat bantu pembelajaran
·         Penentuan alokasi waktu belajar dan pembelajaran

4.      Pengembangan sistem evaluasi :
·         Penentuan teknik evaluasi
·         Penentuan jenis tes
·         Penentuan mengenai waktu pelaksanaan evaluasi

B.     PSIKOLOGI SEKOLAH
Adalah penerapan ilmu psikologi berupa pemberian pelayanan psikologis guna tercapainya pendidikan di sekolah. Yang dimaksud dengan pelayanan psikologis adalah seperti konsultasi dan konseling.
Tugasnya membentuk individu yang sehat mental guna tercapainya proses belajar yang efektif, seperti  high academic achievement, positive social skills and behavior, healty relationship and connectedness, tolerance and respect for others, competence , self-esteem and resiliency.

Fungsi psikologi sekolah ada 3 tingkatan yaitu :
·         Tingkat psikodiagnostik, yaitu wawancara, observasi, atau dengan penggunaan alat tes
·         Tingkat klinis dan konseling, seperti terapi
·         Tingkat industry dan organisasi, yaitu system dari organisasi yang salah

Pelayanan  psikologis bisa diberikan dengan :
·         Assessment
·         Consultation for student, teacher, parents and staff.
·         Prevention
·         Intervention
·         Staff, parents, and student education
·         Research and program development

·         Mental health care

Resume 1 Psikologi Pendidikan : Pedagogi dan Andragogi

PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI

1. Pedagogi.
 Pedagogi merupakan ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru atau ilmu untuk mengajar anak-anak. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
2. Andragogi.
Andragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu Andra yang berarti orang dewasa, dan Agogos yang berarti memimpin. Jadi, Andragogi merujuk pada ilmu atau seni mendidik orang dewasa.


  • Meminjam istilah Rogers dalam Knowles (1970), kegiatan pembelajaran andragogi pada pendidikan luar sekolah bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemukan jati dirinya. Belajar merupakan process of  becoming a person. Bukan proses pembentukan atau process of being shaped, yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang lain. Menurut Maslow (1966), belajar merupakan proses untuk mencapai aktualisasi diri (self-actualization).

  • Andragogi merupakan pembelajaran yang berfokus pada peserta, yang apabila dibandingkan dengan pedagogi yang berfokus pada guru. Lebih lanjut lagi, berdasarkan sumber tersebut, perbedaan mendasar antara andragogi apabila dikaitkan dengan pedagogi adalah berdasarkan asumsi bahwa peserta didik yang lebih tua dan/atau matang sebagai klien menekankan pada pengetahuan dan keterampilan yang relevan, dimana peran pengajar lebih kepada mendukung pembelajaran daripada mengajar atau dengan kata lain, pedagogi dapat dianggap sebagai pembelajaran di kampus.

  • Andragogi dapat diartikan sebagai pembelajaran terbuka di luar kampus.  Dari pernyataan mengenai peserta didik yang lebih tua dan/atau matang dalam andragogi, tentunya akan memunculkan pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan peserta didik yang lebih tua dan/atau matang tersebut. Lindeman dalam Peterson & Ray (2013) kemudian mendefinisikan ciri-ciri pembelajar dewasa, yaitu mengikuti kegiatan belajar secara sukarela, menghargai manfaat intrinsik pembelajaran, dan belajar berdasarkan kebutuhan dan permasalahan mereka dibandingkan dengan berfokus pada subjek tertentu, dan sebagai tambahan, Lindeman menyatakan bahwa pembelajar dewasa berkembang dengan pembelajaran kolaboratif dan pengalaman hidup mereka berkontribusi pada proses pembelajaran. 



·         Perbedaan mendasar antara pedagogi dan andragogi adalah dalam konteks pedagogi suatu pendidikan atau belajar adalah mentransfer pengetahuan kepada peserta didik, sedangkan dalam andragogi lebih menekankan kepada menumbuhkan dorongan dan minat untuk belajar secara mandiri.

No
Andragogi
Pedagogi
1
Pembelajar disebut “peserta didik”/ “warga didik”
Pembelajar disebut “siswa”/ “naka didik”
2
Gaya belajar independen
Gaya belajar dependen
3
Tujuan fleksibel
Tujuan ditentukan sebelumnya
4
Menggunakan metode pelatihan aktif
Metode pelatihan pasif, seperti metode ceramah.
5
Pembelajaran mempengaruhi waktu dan kecepatan
Guru mengontrol waktu dan kecepatan
6
Belajar berpusat pada masalah kehidupan nyata
Belajar berpusat padaisu atau pengetahuan teoritis
7
Peserta dianggap sebagai sumberdaya utama untuk ide-ide dan contoh
Guru sebagai sumber utama yang memberikan ide-ide dan contoh
8
Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi
Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan/atau kurang informasi
9
Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting
Peserta berkontribusi sedikit pengalaman
https://2.bp.blogspot.com/-Gc9bIUT_Yuc/WUMplOwrxOI/AAAAAAAAAGk/8rsPwOFvdmIaZfyQDyewQ_Splmu5MqUFACEwYBhgL/s320/andra%2Bdan%2Bpeda%2B2.png

Perbandingan berdasarkan Asumsi pada Pedagogi dan Andragogi
Pedagogi :
1.      Aspek konsep peserta didik : Peran pembelajar, secara definisi sebagai seseorang yang memiliki ketergantungan. Guru dituntut oleh masyarakat untuk bertanggung jawab secara penuh untuk menentukan apa yang dipelajari, kapan materi tersebut dipelajari, bagaimana materi tersebut dipelajari, dan apakah materi itu telah selesai dipelajari.
2.      Aspek peran pengalaman peserta didik: Pengalaman peserta didik yang dibawa pada situasi pembelajaran bernilai sedikit. Pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai titik awal, tetapi pengalaman yang didapat peserta hampir semuanya berasal dari guru, buku, media pembelajaran, dan ahli-ahli yang lain. Dengan demikian, teknik utama dalam pendidikan adalah menggunakan teknik pengiriman, tugas membaca, dan presentasi menggunakan audio visual.
3.      Aspek kesiapan untuk belajar : Orang siap untuk belajar ketika masyarakat (terutama sekolah) berkata mereka harus belajar, dengan memberikan tekanan yang besar kepada mereka (seperti ketakutan dan kegagalan). Kebanyakan orang pada usia yang sama siap untuk mempelajari sesuatu yang sama. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran harus diorganisir menjadi kurikulum standar, dengan setiap langkah yang seragam untuk semua peserta didik.
4.      Aspek orientasi untuk belajar : Peserta didik melihat pendidikan sebagai suatu proses mendapatkan isi mata pelajaran, dan hampir semua yang mereka pahami hanya akan berguna pada kehidupan masa depannya. Dengan demikian, kurikulum harus disusun menjadi unit-unit mata pelajaran yang mengikuti kelogisan materi (mis: dari sejarah kuno ke modern, sederhana menjadi kompleks). Peserta didik menjadi pusat perhatian dalam orientasi untuk belajar.
5.      Aspek perspektif waktu : Aplikasi ditunda.
6.      Aspek klim belajar: Berorientasi otoritas, resmi, dan kompetitif.
7.      Aspek perencanaan : Oleh guru.
8.      Aspek perumusan tujuan : Oleh guru.
9.      Aspek desain : Logika materi, pelajaran, unit konten.
10.  Aspek kegiatan : Teknik pelayanan.
11.  Aspek evaluasi : Oleh guru.

Andragogi :
1.      Aspek konsep peserta didik : Merupakan suatu aspek yang normal dalam proses pendewasaan seseorang untuk beralih dari ketergantungan terhadap diri yang diarahkan,tetapi pada tingkat yang berbeda untuk orang-orang yang bebeda dalam dimensi kehidupan yang berbeda. Guru mempunyai tanggung jawab untuk mendorong dan gerakan ini. Orang dewasa memiliki kebutuhan psikologis untuk mendiri, walaupun mereka masih memiliki ketergantungan dalam situasi khusus yang temporer.
2.      Aspek peran pengalaman peserta didik : Karena manusia tumbuh dan mengembangkan, mereka mengakumulasikan pengalaman yang menjadi sumber daya yang kaya untuk belajar, baik untuk diri mereka sendiri dan untuk orang lain. Selanjutnya, orang dewasa akan memberikan arti lebih pada pada pembelajaran yang didapat dari pengalaman daripada pembelajaran yang didapat secara pasif. Dengan demikian, teknik utama dalam pembelajaran adalah dengan teknik eksperensial seperti eksperimen di laboratorium, diskusi, pemecahan masalah kasuskasus, latihan simulasi, pengalaman lapangan, dan sejenisnya.
3.      Aspek kesiapan untuk belajar : Orang siap untuk belajar sesuatu ketika mereka mengalami kebutuhan untuk belajar sesuatu tersebut untuk mengatasi tugastugas atau permasalahan di dunia nyata dengan baik. Pendidik mempunyai tanggung jawabuntuk menciptakan kondisi dan menyediakan alat dan berbagai prosedur untuk membantu peserta didik untuk dapat menemukan “apa yang mereka butuhkan untuk tahu”, dan program pembelajaran harus disusun pada wilayah kategori dan sekuen aplikasi kehidupan berdasarhkan kesiapan peserta didik untuk belajar.
4.      Aspek orientasi untuk belajar : Peserta didik memandang pendidikan sebagai suatu proses pengembangan peningkatan kompetensi untuk mencapai potensi penuh mereka dalam kehidupan. Mereka memiliki keinginan untuk dapat mengaplikasikan apapun pengetahuan atau keterampilan yang mereka dapatkan sekarang untuk dapat hidup lebih baik keeseokan harinya. Dengan demikian, pengalaman belajar harus disusun pada sekitar wilayah kategori pengembangan kompetensi. Peserta didik merupakan pusat performa dalam orientasi untuk belajar.
5.      Aspek perspektif waktu : Kecepatan aplikasi
6.      Aspek iklim belajar : Mutualitas/pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi, dan informal.
7.      Aspek perencanaan : Reksa (mutual) diagnosis diri.
8.      Aspek perumusan tujuan : Reksa negosiasi.
9.      Aspek desain : Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah.
10.  Aspek kegiatan : Teknik pengalaman (penyelidikan).
11.  Aspek evaluasi : Reksa diagnosis kebutuhan dan reksa program pengukuran.


PPT Observasi SMP AL-AZHAR Kelompok 2

Observasi Psikologi Pendidikan

TUGAS OBSERVASI

“Manajemen Kelas”
SMP Al-Azhar

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2

Filipus Riaman Napitu Saragih (161301032)
T. Yulias Triana (161301011)
Nirmala Sari (161301014)
Fadillah (161301017)
Irham M. (161301062)
Tamariska Br. Gurusinga (161301066)
Renya Clara (161301075)



FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
TA. 2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah yang berjudul "Manajemen Kelas SMP Al-Azhar". Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan  baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

                                                                                                            Medan, 10 April 2017

 

                                                                                                                        Penyusun

 

 

 

 

 


Daftar  Isi









BAB I: PENDAHULUAN


Sebagai mahasiswa Psikologi yang mempelajari tingkah laku dan proses mental manusia. Sebuah perilaku terbentuk dan muncul karena ada dorongan yang berasal dari dalam (intrinsic) maupun di luar diri (ekstrinsik) manusia. Dorongan-dorongan ini disebut motivasi. Motivasi menjadi dasar dan landasan manusia melakukan suatu tindakan tertentu.  
Semua aktivitas dan tindakan yang kita lakukan terjadi karena adanya dorongan motivasi. Motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku (Perilaku). Perilaku ini timbul karena adanya dorongan faktor internal dan faktor eksternal. Perilaku dipandang sebagai reaksi atau respons terhadap suatu stimulus.
Untuk mendapatkan dorongan tersebut diperlukan beberapa strategi pengajaran dan pembelajaran yang tepat untuk dapat memotivasi anak didik serta menghidupkan suasana untuk mencapai pemahaman materi yang baik.
Kami mencoba mengobservasi sebuah sekolah yaitu SMA Swasta Al-Azhar Medan untuk melihat bagaimana metode pembelajaran, manajemen kelas, dan seberapa besar peran motivasi seorang siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Kami mengobservasi secara langsung, untuk dapat mendaptkan gambaran secara deskriptif tentang strategi/metode pembelajaran disekolah tersebut.

Landasan Teori

Pendidikan Remaja Awal (SMP)

Pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Jadi pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua orang dapat diperlakukan dengan porsi yang sama. Dengan adanya perbedaan rentang usia pastinya terdapat daya tampung ilmu yang berbeda-beda tiap rentangnya. Oleh sebab itu terbentuklah suatu jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan usia dan kapasitasnya masing-masing. Adapun 4 Jenjang Pendidikan di Indonesia sendiri, yakni: PG/TK, SD, SMP, dan SMA.

Sekolah menengah pertama (disingkat SMP, bahasa Inggris: junior high school) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9. Murid kelas 9 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah menengah pertama dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan (atau sederajat).
Pelajar sekolah menengah pertama umumnya berusia 13-15 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun. Dengan kata lain peserta didik pada jenjang ini adalah kalangan remaja, terutama remaja awal.
Remaja atau adolescence bersal dari bahasa latin “adolescence” yang berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Remaja juga dapat didefinisikan sebagai tahap perkembangan transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Ada dua pandangan teoritis tentang remaja. Menurut pandangan teoritis pertama yang dicetuskan oleh Psikolog G.Stanley Hall : Adolescence is atime of “strom and stess”. Artinya, remaja adalah masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, yaitu masa dimana terjadi perubahan besar secara fisik, intelektual dan emossional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan (konflik) pada yang bersangkutan, serta dapat menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Dalam hal ini Sigmund freud dan Erikson meyakini bahwa perkembangan pada masa remaja penuh dengan konflik. Menurut teoritis yang kedua, masa remaja bukanlah masa yang penuh dengan konflik. Menurut hurlock (1964) remaja awal (12/13 tahun-17/18 tahun), remaja akhir (17/18 tahun-21/22 tahun).

Ciri-ciri Remaja Awal (10-14 tahun).
1)      Ciri fisik:
v  Laju perkembangan secara umum berlangsung sangat cepat/pesat.
v  Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering kali kurang seimbang.
v  Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbuh bulu pada pubic region, otot mengembang pada bagian-bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki).
2)      Ciri Psikomotor :
v  Gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan.
v  Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan.
3)      Ciri Bahasa:
v  Berkembangnya penggunaan bahasa sandi dan mulai  tertarik mempelajari bahasa asing.
v  Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik, fantastik, dan estetik.
Ciri-ciri Perkembangan Remaja
Perkembangan remaja terlihat dengan ciri-ciri sebagai berikut :
A.    Perkembangan Biologis
Perubahan fisik seperti pubertas merupakan hasil aktifitas hormonal dibawah pengaruh sistem saraf pusat. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak pada pertumbuhan peningkatan fisik dan pada penampakan serta perkembangan karakteristik seks sekunder.
B.     Perkembangan Psikologis
Teori psikososial tradisional menganggap bahwa kritis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya identitas. Pada masa remaja mereka mulai melihat dirinya sebagai individu yang lain.
C.    Perkembangan Kognitif
Berfikir kognitif mencapai puncaknya pada kemampuan berfikir abstrak. Remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual yang merupakan ciri periode konkret, remaja juga memerhatikan terhadap kemungkinan tentang hal yang akan terjadi. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi,diferensiasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relatif terbatas. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat dan cepat. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai menunjukkan kecenderungan-kecenderungan yang lebih jelas.
D.  Perkembangan Moral
Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis seorang remaja mulai mengiuji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya.
E.     Perkembangan Spiritual
Seorang remaja mampu memahami konsep abstrak dan menginterpirasikan analogi serta simbol-simbol. Mereka mampu berempati, berfilosofi, dan berfikir secara logis. Kemudian mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertakan secara kritis dan skeptis. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan  adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Dan masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup.
F.     Perkembangan Sosial
Remaja harus mampu membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari kewenangan keluarga. Masa remaja adalah masa dengan kemampuan bersosialisasi yang kuat terhadap teman dekat dan teman sebaya.

Ciri Konatif, Emosi,  Afektif, dam Kepribadian remaja :
a)      Lima kebutuhan dasar ( fisiologis,rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya.
b)      Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labih dan belum terkendali seperti pernyataan marah, gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam waktu yang cepat.
c)      Kecenderungan-kecenderunganarah sikap nilai mulai tampak (teoritis, ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba.
d)     Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi kritis identitanya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psikososialnya, yang akan membentuk kepribadiannya.





Macam Metode Pembelajaran untuk siswa SMP
Siswa SMP adalah siswa yang rata- rata berumur remaja yang menurut ahli perkembangan erik erikson berada dalam masa mencari identitas.jadi menurut pendapat ahli tersebut dapat ditarik beberapa metode yang cocok digunakan untuk siswa smp
1. Metode pembelajaran memungkinkan komunikasi 2 arah terjadi seperti guru memberikan materi berupa ceramah,kemudian guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya.,jika tidak ada siswa yang bertanya maka guru dapat memberikan dorongan dengan membuatnya menjadi tertarik untuk bertanya
2. Metode pembelajaran kelompok
Rata rata remaja usia smp suka berkelompok dengan teman teman sebayanya,jadi naluriberkelompok tersebut dapat digunakan oleh guru untuk menunjang pembelajaran
3. Metode pembelajaran berdasarkan masalah yang berkembang kemudian guru bisa mengajak siswanya untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama

 

Motivasi


Bersehubungan data diatas dalam ruang lingkup dunia pendidikan, motivasi juga merupakan hal yang perlu diperhatikan sebagai pendorong minat belajar dalam KBM. Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Ada beberapa perspektif Motivasi diantaranya:
1.                  Perspektif behavioral
Menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat serta menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat (Emmer dkk, 2000). Insentif yang dipakai guru di kelas antara lain nilai yang baik, tanda bintang, atau pujian jika mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Insentif lainnya antara lain memberi penghargaan atau pengakuan pada murid.
2.                  Perspektif Humanistis
Menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif. Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. 

          “Aktualisasi diri”, Kebutuhan tertinggi dan sulit dalam hierarki Maslow, diberi perhatian khusus. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia. Menurut Maslow, aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi.
3.                  Perspektif Kognitif
Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif (Pintrich & Schunk, 2002). Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif.
Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W. White (1959), yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien. White mengatakan bahwa orang melakukan hal-hal tersebut bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena orang punya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.
4.                  Perspektif Sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru

Orientasi Belajar

*                   Teacher - Centered Learning
     Pendekatan ini memfokuskan guru. Perencanaan dan instruksi disusun oleh guru. Dalam hal ini, guru juga mengarahkan pembelajaran murid, memiliki ekspektasi yang tinggi atas kemajuan murid, memaksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid.
Perencanaan Teacher-Centered Learning memiliki tiga alat umum dalam perencanaan ini :
1.      Menciptakan Sasaran Behavioral
Sasaran behavioral (behavioral objectives) adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert Mager (1962), sasaran behavioral harus spesifik. Mager percaya bahwa sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian :
·         Perilaku murid. Fokus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
·         Kondisi di mana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan dievaluasi atau dites.
·         Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima.

2.      Menganalisis Tugas
Difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid  menjadi komponen-komponen (Alberto & Troutman, 1999). Analisis dilakukan melalui tiga langkah dasar (Moyer & Dardig, 1978) :

·         Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
·         Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator, dan sebagainya.
·         Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.
3.      Menyusun Taksonomi Instruksional
Taksonomi adalah sistem klasifikasi. Taksonomi Bloom oleh Benjamin Bloom dkk (1956) mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain :
a. Domain Kognitif memiliki enam sasaran, antara lain :
·         Pengetahuan        
·         Analisis
·         Pemahaman        
·         Sintesis
·         Aplikasi              
·         Evaluasi
b. Domain Afektif (respons emosional terhadap tugas) memiliki lima sasaran, antara lain :
-          Penerimaan          
-          Pengorganisasian
-          Respons                
-          Menghargai karakterisasi
-          Menghargai
c. Domain Psikomotor (menghubungkan aktivitas motor dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengolahan kata, juga membutuhkan gerakan. Dalam sains, murid harus menggunakan peralatan yang kompleks; seni visual dan pahat membutuhkan koordinasi mata dan tangan. Sasaran psikomotor menurut Bloom adalah :
-          Gerak refleks                                        
-          Kemampuan fisik
-          Gerak fundamental dasar                   
-          Gerak terlatih
-          Kemampuan Perseptual                     
-          Perilaku nondiskusif

*                   Learner -  Centered Learning
Pendekatan ini fokusnya adalah kepada siswa bukan guru. Dalam hal ini, persepsi murid terhadap lingkungan pembelajaran yang positif dan hubungan interpersonal dengan guru merupakan faktor paling penting yang memperkuat motivasi dan prestasi murid (McCombs, 2001; McCombs & Quiat, 2001). Pendekatan ini mengandung implikasi penting bagi cara guru merancang dan mengajar, karena prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada riset tentang cara belajar paling efektif bagi murid. Pendekatan ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Pendidikan akan lebih baik apabila fokus utamanya adalah pada orang yang belajar (learner). Learner-Centered ini dikembangkan oleh American Psychological Association (APA) dapat diklasifikasikan berdasarkan empat faktor :
1.                  Faktor Kognitif dan Metakognitif
Ada enam prinsip, yaitu :
·                     Sifat proses pembelajaran
·                     Tujuan proses pembelajaran
·                     Konstruksi pengetahuan
·                     Pemikiran strategi
·                     Memikirkan tentang pemikiran (metakognisi)
·                     Konteks pembelajaran
2.                  Faktor Motivasi dan Emosional
Ada tiga prinsip, antara lain :
·                     Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran
·                     Motivasi intrinsik untuk belajar
·                     Efek motivasi terhadap usaha
3. Faktor Sosial dan Developmental
    Ada dua prisip, antara lain :
a. Pengaruh perkembangan pada pembelajaran
b. pengaruh sosial terhadap pembelajaran

4. Faktor Perbedaan Individual
    Ada tiga prinsip, antara lain :
a.  Perbedaan individual dalam pembelajaran
b.  Pembelajaran dan diversitas
c. Standar dan penilaian

Manajemen Kelas

Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003). Manajemen lingkungan yang baik adalah mendesain lingkungan fisik kelas untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran, membangun dan menegakkan aturan, mengajak murid bekerja sama, mengatasi masalah secara efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik.
Ada tujuan manajemen kelas yang efektif : membantu murid menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan, dan mencegah murid mengalami masalah akademik dan emosional.
·                     Mendesain Lingkungan Fisik Kelas
Gaya Penataan:

1.      Gaya auditorium tradisional, semua murid duduk menghadap guru.
2.      Gaya tatap muka (face to face), murid saling menghadap satu sama lain.
3.      Gaya off-set, sejumlah murid (3-4 orang) duduk di bangku tetapi tidak duduk   berhadapan langsung satu sama lain.
4.      Gaya seminar, sejumlah besar murid (10 atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, persegi, atau bentuk U.
5.      Gaya klaster (cluster), sejumlah murid (4-8 orang) bekerja dalam kelompok kecil.
·                     Menciptakan Lingkungan Positif untuk Pembelajaran
Guru yang otoratif akan cenderung mempunyai murid yang mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Guru otoratif akan melibatkan murid dalam kerja sama give-and-take dan menunjukkan sikap perhatian kepada mereka, menjelaskan aturan dan regulasi, dan menentukan standar dengan masukan dari murid. Strategi manajemen kelas yang otoratif akan mendorong murid untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku independen.







Identitas Sekolah

Nama Sekolah                         : SMA Swasta Al-Azhar Medan
Nama Kepala Sekolah             : Drs. Agustini, M.A
Alamat Sekolah                       : Jl. Pintu Air IV No. 214
Kecamatan                              : Medan Johor
Kabupaten                               : Kota Medan
Provinsi                                   : Sumatera Utara
Ekstrakurikuler                        :
      • Paskibra
      • Pramuka
      • Futsal
      • Basket

Jadwal Pelaksanaan

No.
Kegiatan
Tanggal
1.
Menentukan topic
15 Maret 2017
2.
Meninjau keadaan sekolah
18 Maret 2017
3.
Membuat surat izin dari fakultas
20 Maret 2017
4.
Menerima surat izin dari fakultas
23 Maret 2017
5.
Mengirim surat ke sekolah
23 Maret 2017
6
Mengobservasi
24 Maret 2017
7.
Diskusi kelompok
4 April 2017
8.
Posting blog
11 April 2017

Alat / Bahan:

1.      Pulpen
2.      Buku Notes, untuk mencatat hasil observasi
3.      Kamera HP sebagai dokumentasi

Analisis Data

Data kami peroleh melalui kegiatan observasi langsung di SMP Al-Azhar. Data tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana proses “Manajemen Kelas” di SMP Al-Azhar.

Sampel Penelitian Dan Lokasi Pengambilan Data

Sampel : Siswa dan Guru di SMP Al-Azhar
Tempat : SMP Al-Azhar, Jl. Pintu Air IV No. 214 Kwala Bekala, Medan Johor

BAB II: PELAKSANAAN


Penelitian dilakukan  pada tanggal 24 Maret 2017 di sekolah  Perguruan Al-Azhar Medan. Kelompok berangkat dari rumah masing-masing pada pukul 08:00 menuju fakultas Psikologi USU dan berangkat secara bersamaan menuju Perguruan Al-Azhar Medan menggunakan transportasi online. Sampailah kami sekitar pukul 09:00 di Perguruan Al-Azhar medan. Sebelum memasuki kelas yang akan diobservasi kelompok memeriksa kelengkapan anggota serta memeriksa barang-barang  yang telah dipersiapkan  untuk melakukan observasi, yang berupa buku note, pena, dan kamera ponsel. Setelah semua lengkap kelompok memulai dengan menemui wakil kepala sekolah untuk memastikan izin mengobservasi manangement kelas siswa. Kami  yang beranggotakan 7 orang dalam kelompok dibagi oleh wakil kepala sekolah  menjadi dua kelompok dimana, satu kelas kami beranggotakan  4 orang dan satu kelas lagi beranggotakan 3 orang.
Setelah itu, kelompok satu memasuki kelas 7 Billingual B yang sedang berlangsungnya pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan kelompok dua memasuki kelas 9 Bilingual A yang sedang berlangsungya pelajaran dibawa Bahasa Inggris dan dilanjutkan dengan pelajaran Matematika. Lalu kelompok mulai memperkenal diri, tujuan kedatangan kelompok serta menjelaskan prosedur observasi. Setelah prosedur selasai dijelaskan, kelompok mempersilahkan murid-murid melanjutkan kegiatan yang telah di tetapkan oleh guru masing-masing dan mulai untuk mengobservasi management kelas tersebut. Setiap anggota kelompok telah memiliki tugas masing-masing, yaitu ada yang bertugas mencatat bagaimana terjadinya management kelas, ada yang bertugas mewawancarai sebagian murid dan ada juga yang bertugas untuk mengabadikan beberapa moment penting dalam kelas. Sekitar pukul 10:30 pelajaran telah berakhir, murid-murid diwajibkan melakukan shalat sunnah dhuha dan setelah selesai shalat murid-murid pun beristirahat. Sebelum kelas berakhir kelompok juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi murid- murid terhadap observasi tersebut.
Setelah itu kelompok menemui wakil kepala sekolah untuk mengucapkan terima kasih atas izin dalam melaksanakan tugas observasi management kelas. Sekitar pukul 11:00 kelompok sepakat untuk mengakhiri observasi tersebut dan kembali kerumah masing-masing menggunakan transportasi online.

BAB III: LAPORAN, EVALUASI, dan DOKUMENTASI OBSERVASI


Laporan Kelompok 1: Kelas VII Billingual B

·         Kondisi Kelas
Kami masuk ke dalam kelas VII Billingual B pada 1 mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia. Mata pelajaran Bahasa Indonesia ini dipimpin oleh Miss Dewi. Satu kelas terdiri dari 24 orang, 16 orang perempuan dan 8 orang laki-laki. Pada pelajaran ini semua murid hadir. Pada waktu itu sedang berlangsung diskusi kelompok, mereka mendiskusikan tentang unsur  intrinstik dan ekstrintrik dari sebuah cerpen yang berjudul Nikmat Tiada Hitungan Matematika. Murid dibagi dalam 4 kelompok, dimana di setiap kelompok terdiri dari 6 orang



.
Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia ini guru menginstruksikan muridnya membawa buku masing-masing, dan kemudian murid membaca terlebih dahulu wacana tersebut, dan lalu menceritakan kembali apa yang mereka baca. Selain itu guru juga menawarkan nilai lebih kepada kelompok yang menyelesaikan tugas dengan cepat. Dan ini merupakan sebuah motivasi untuk murid-muridnya. Selain itu kelompok yang bisa menjelaskan hasil diskusi mereka dengan baik murid yang lain memberi tepuk tangan, ini juga merupakan bagian dari motivasi. Dan murid dalam kelas VII Billingual B ini sangat aktif, kritis, kompak dan juga kreatif. Terlihat dari dekorasi kelas mereka yang colorfull dan nyaman.



Dalam pengamatan kami guru disini mampu menguasai kelas dengan baik, tapi terkadang muridnya suka ribut terutama murid perempuan. Dalam mata pelajaran ini murid mampu memahami apa yang guru jelaskan. Miss mampu dalam menguasai kelas, miss juga berjalan untuk memperhatikan dan membantu para murid di setiap kelompok. Para murid juga aktif bertanya jika mereka kurang memahami tugas tersebut.

Setelah beberapa menit, miss pun mulai bertanya tentang apa isi cerpen tersebut. Lalu ada kelompok  yang mayoritas perempuan menjawab, kemudian miss meminta mereka untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka itu. Setelah kelompok 1 selesai mempresentasikan hasil diskusi mereka, Miss Dewi menjelaskan tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik dari cerpen tersebut sambil melakukan tanya jawab dengan para murid. Namun beberapa anak ada yang tidak mendengarkan saat sedang dijelaskan, ada yang mengobrol, main-main, dan tertawa. Murid perempuan lebih aktif dalam diskusi dibandingkan murid laki-laki. Sejauh ini semua murid bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun sikapnya kurang sopan.
Setelah semua pertanyaan terjawab, jam kelas Bahasa Indonesia pun berekhir dan Miss Dewi mengajak murid-murid untuk melaksanakan sholat dhuha.


EVALUASI

Menurut pemaparan hasil observasi di SMPS Al-Azhar Medan di kelas VII Bilingual B diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode belajar yang digunakan adalah metode student-centered yaitu pembelajaran kooperatif. Dikatakan berpusat kepada siswa oleh sebab sebagian besar input pengajaran berasal dari siswa, mereka secara aktif akan meningkatkan belajar mereka, serta mereka dapat menentukan hasil diskusi mereka. Hal ini terlihat dari berlangsungnya diskusi  dan persentasi oleh masing-masing kelompok. Dan hal ini terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi peserta didik, apalagi guru memberikan imbalan berupa nilai lebih pada kelompok yang selesai dengan cepat.
            Dalam pelaksanaan observasi ini kami tidak banyak menemui kendala. Surat izin dan administrasi lain berjalan dengan lancar, dikarenakan salah satu anggota kelompok kami adalah alumni dari sekolah tersebut. Pihak sekolah juga sangat membantu dan menyambut dengan baik.

DOKUMENTASI



Laporan Kelompok 2: Kelas IX Billingual A


·         Kondisi Kelas
Kami masuk ke dalam kelas IX Bilingual A pada 2 mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris dan Matematika Dasar. Mata pelajaran Bahasa Inggris dipimpin oleh Sir Faisal Asdami dan mata pelajaran Matematika Dasar dipimpin oleh Sir Abdurrahman. Satu kelas terdiri dari 24 orang, 16 orang perempuan dan 8 orang laki-laki. Namun pada pelajaran Bahasa Inggris 1 orang anak perempuan tidak hadir, namun pada saat pelajaran Matematika Dasar ia hadir. Guru dan murid berbicara dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Posisi tempat duduk adalah sepasang.
·         Mata Pelajaran Bahasa Inggis
Setelah menyiapkan kelas, Sir Faisal meminta para murid untuk membentuk kelompok. Lalu anak-anak tersebut langsung mengubah posisi duduk di dalam kelompok mereka masing-masing. Ada 5 kelompok yang terdiri dari 2 kelompok untuk anak laki-laki dan 3 kelompok untuk anak perempuan. Lalu Sir Faisal memberikan tugas dari buku pegangan mereka. Tugasnya adalah membaca isi text lalu mencari tahu tentang apa isi text tersebut. Setelah selesai didiskusikan, maka akan dipresentasikan dalam durasi 5 menit.



Lalu Sir Faisal berjalan untuk memperhatikan dan membantu para murid di setiap kelompok. Para murid juga aktif bertanya jika mereka kurang memahami terjemahan text tersebut. Kelompok perempuan yang di tengah kurang bekerja sama (1), kelompok laki-laki yang di sebelah kanan lebih banyak bermain daripada berdiskusi (2), dan ada anak perempuan di kelompok perempuan yang di sebelah kanan kurang sopan saat berdiskusi (3).

Setelah beberapa menit, maka Sir Faisal bertanya tentang apa isi text tersebut. Lalu ada kelompok perempuan yang menjawab bahwa text tersebut tentang “seekor rusa yang tidak bersyukur”. Setelah itu Sir Faisal menjelaskan tentang text tersebut sambil melakukan tanya jawab dengan para murid. Namun beberapa anak ada yang tidak mendengarkan saat sedang dijelaskan, ada yang mengobrol, tiduran, dan tertawa. Kelompok laki-laki dan perempuan yang sebelah kanan kurang memperhatikan dibandingkan kelompok perempuan yang di tengah dan di sebelah kiri serta kelompok laki-laki disebelah kiri. Murid perempuan lebih aktif dalam diskusi dibandingkan murid laki-laki. Sejauh ini semua murid bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun sikapnya kurang sopan.
Setelah semua pertanyaan terjawab, Sir Faisal memberikan pr, lalu Sir Faisal bertanya kapan mau dikumpul. Lalu mereka berdiskusi kapan waktu yang tepat untuk mengumpulkan pr tersebut. Saat sedang berdiskusi, suasana kelas sangat ricuh dan tidak kondusif. Setelah mendapat kesepakatan, Sir Faisal memberikan informasi seputar ujian akhir lalu ia keluar kelas dan murid mengucapkan salam dan terimakasih.

·         Mata Pelajaran Matematika Dasar
Sir Abdurrahman masuk ke dalam kelas bersama dengan murid perempuan yang tidak hadir pada saat mata pelajaran Bahasa Inggris tadi dan menyapa murid-murid. Lalu Sir Abdurrahman bahwa materi kelas A hari itu adalah menjawab soal-soal yang ada di buku pegangan tentang soal-soal UN. Lalu setiap orang akan dipilih untuk mnuliskan jawabannya di depan. Namun para murid menolak dan mengatakan bahwa merekan ingin soalnya dibahas bersama saja. Lalu mereka sepakat untuk berdiskusi tetap di dalam kelompok yang sama dengan mata pelajaran Bahasa Inggris tadi. Lalu Sir Abdurrahman menggambar sebuah kubus di papan tulis dan mendiktekan soalnya lalu bertanya kepada para murid bagaimana cara menjawab soal tersebut. Para murid belum menyiapkan buku dan pena saat soal dibacakan, jadi mereka berkata “belum siap sir”, “sebentar sir”, dan “pelan-pelanlah sir” sehingga kelas kurang kondusif.

Saat berdiskusi anak perempuan yang baru hadir tadi di kelompok perempuan sebelah kanan sedang bermain hp sebentar lalu meletakkannya (1). Murid laki-laki lebih memperhatikan dibandingkan murid perempuan(2). Lalu Sir Abdurrahman menunjuk kelompok perempuan yang di tengah untuk maju menjawab soal tersebut. Anggota kelompok tersebut langsung menunjuk 1 murid yang bernama Laili. Lalu para murid berkata belum siap dan meminta waktu untuk berdiskusi sebentar. Saat berdiskusi, ada murid perempun yang membuka sepatunya dan mengangkat kaki (3), bertopang dagu dan bermalas-malasan (4) namun ada juga murid yang serius mengerjakan soal dan mengajarkan temannya bagaimana cara menjawab soal tersebut (5). Sir Abdurrahman berkeliling untuk membantu para murid dalam menjawab soal, membangkitkan murid-murid yang bermalas-malasan, dan menegur murid-murid yang tidak mengerjakan. Ada perilaku yang kurang sopan dimana anak menarik baju Sir Abdurrahman saat bertanya mengenai soal (6). Setelah beberapa menit, lalu Laili beserta temannya maju ke depan untuk mempesentasikan bagaimana cara menjawab soal kubus tersebut (7). Setelah selesai, para murid pergiberistirahat.

DOKUMENTASI


             

EVALUASI

Perencanaan awal yang dilakukan sudah cukup matang serta terstruktur dengan rapi, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat sedikit kendala dalam hal pemilihan sekolah yang akan diobservasi. Setelah dirundingkan dan disurvey maka dipilih SMP Al-Azhar yang menjadi tempat dimana observasi akan dilakukan. Saat hari pengobservasian, dipilihlah dua kelas dengan satu tim di setiap kelas. Pembagian tim yang mendadak dilakukan serta pembagian tugas berlangsung cepat. Dalam kelas, penjelasan langsung kami beri kepada guru dan murid tanpa basa-basi dan menghemat waktu agar mereka bertindak seperti biasanya. Satu tim mendapatkan 2 sesi mata pelajaran sedangkan satu tim lainnya hanya dapat mengobservasi 1 sesi mata pelajaran.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dipaparkan diatas, kami menyimpulkan bahwa manajemen kelas kurang baik tetapi pengajaran yang dilakukan guru merupakan cara belajar dua arah yaitu guru dan murid sama-sama mengambil peran dalam proses belajar.

Testimoni :

Filipus Riaman Napitu Saragih (161301032)
Tugas yang paling menarik adalah observasi kesekolah, disitu kita belajar bagaimana sebagai mahasiswa, secara kelompok melakukan tugas outdoor secara mandiri, turun langsung kelapangan, untuk menelaah langsung sesuai kajian yang didapat selama masa perkuliahan. Alhasil banyak hal postif yang kami dapatkan, dimana tidak hanya teori, kami mendapatkan pemahaman lebih akan dunia pendidikan.

T Yulias Triana (161301011)
Saya sangat excited dengan tugas observasi ini. Karena ini adalah tugas pertama observasi sejak di Fakultas Psikologi. Dan juga harap-harap cemas dengan teknis pelaksanaan dan hasilnya. Dan mengalami kebingungan untuk menentukan sekolah yang akan dijadikan objek observasi. Tetapi beruntung salah satu anggota kelompok kami adalah alumni SMPS Al-Azhar Medan. Kami pun memilih SMP tersebut, dan observasi pun berjalan lancar. Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan.

Fadillah (161301017)
Menurut saya dengan adanya tugas mengobservasi ini dapat menambah ilmu saya dimana selama ini pembelajaran psikologi pendidikan hanya dalam metode teori dan ceramah tetapi dengan adanya tugas ini membuat saya lebih mengerti tentang praktek langsung bagaimana cara melihat  management kelas yang baik dan benar. Kegiatan observasi ini sangat menarik karena kelompok kami mengobservasi untuk tingkat sekolah menengah pertama.  Dan ini merupakan pengalaman pertama saya serta pengalaman yang paling berharga untuk saya.

Tamariska br Gurusinga (161301066)
                
Observasi adalah pengalaman yang baru bagi saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada mata kuliah Pendidikan dan para dosen pengampu yang membuat tugas observasi ini. Awalnya degdegan nanti bagaimana cara observasinya,apa yang harus dilakukan. Untungnya kami saling membantu sesama anggota kelompok sehingga observasi dapat dilakukan dengan lancar. Kami mengamati proses belajar dan manajemen kelas anak smp. Itu adalah pengalaman baru yang tak terlupakan bagi saya.

Renya Clara T. S. Depari (161301075)
Kami memilih observasi dengan topik manajemen kelas. Saat sedang bersiap-siap untuk pengobservasian, pembagian tim yang mendadak menjadi dua sempat membuat saya kaget karena harus mengontrol dan mengobservasi kelas. Tetapi saat observasi berlangsung ternyata tidaklah sesulit yang saya pikirkan karena saya sudah pernah berada di posisi mereka sebagai murid. Serta saya juga sudah mempelajari teori-teori psikologi pendidikan tentang bagaimana mendidik yang efektif sehingga mempermudah untuk menilai dan mengobservasi. Saya juga merasakan mereka sebagai murid sangat akrab dan langsung dengan mudah menerima kami.

Nirmalla Sari (161301014)
Selama observasi saya banyak mendapat kesan yang menyenangkan . Selain itu dengan observasi wawasan dan pengalaman saya bertambah.  Dan dengan observasi ini juga saya lebih paham bagaimana cara memanajem kelas.   Intinya selama observasi saya sangat senang dan bersemangat. 

Irham M. (161301062)
Selama observasi dapat kesan yang menyenangkan karena observasi dapat membantu kita melihat langsung bagaimana manajemen kelas. Jadi kita bukan hanya dituntut untuk mengetahui teorinya saja tetapi dituntut untuk memahami bagaimana manajem kelas jika berada di lapangan langsung. Selain dapat mengetahui manajemen kelas kita juga dapat tambahan yaitu kita bisa mengetahui dengan melihat secara langsung perkembangan anak pada masa umurnya. Intinya satu observasi MANTAP











Desain Poster :

Daftar Pustaka :


Santrock, John W. Psikologi Pendidikan edisi kedua. Universitas of Texas  at Dallas. Kencana: Prenada Media Group.
http://www.psychoshare.com/file-817/psikologi-industri-dan-organisasi/hubungan-motivasi-dengan-perilaku.html